29.10.16

Program Youth Development Buruk Faktor Utama Bobroknya Sepak Bola Indonesia.

Sepak bola adalah salah satu olahraga paling populer di Indonesia, bahkan mungkin yang paling populer. Namun, cukup disayangkan prestasi Indonesia sangat minim. Faktor dari melempemnya Indonesia dalam sepak bola tidak lain karena buruknya program youth development.
Kita bisa lihat, pada tahun 2013 Indonesia peringkat 8 piala dunia U-12 dan menurun menjadi peringkat 11 tahun 2016. Tahun 2014 setelah event Piala AFF U-19 2014 di Myanmar Timnas Indonesia U-19 yang sebenarnya sangat berpotensi malah dibubarkan.
“Tapi bukannya sudah ada SSB di Indonesia?” ya, Sekolah Sepak Bola (SSB) di Indonesia memang sudah ada, bahkan sangat banyak. Namun itu saja belum cukup sebagai program youth development atau pengembangan usia dini.
Alasan pertama, seperti yang dikatakan expert sepak bola, Coach Justinus Lhaksana, Indonesia tidak mempunyai kriteria dalam membuat SSB. Jika ingin membuat SSB, kita tinggal membuatnya, baik untuk usia 6 tahun sampai 17 tahun. Padahal dalam pembuatan SSB musti ada kriterianya. Ini menyebabkan buruknya kualitas sebagian besar SSB di Indonesia.
Asosiasi Provinsi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (Asprov PSSI), sebagai kepanjangan tangan dari PSSI seharusnya membuat sebuah kriteria untuk SSB. Contohlah kriteria youth development terbaik di dunia, yaitu milik KNVB (PSSI nya Belanda).
SSB yang diakui KNVB hanya yang memiliki kelas usia 6 – 17 tahun. Setiap SSB diwajibkan punya lapangan sendiri, kalaupun tidak harus sewa dan ada kontrak resminya. SSB juga harus rutin menggelar latihan seminggu sekali. Hal ini bertujuan untuk pemerataan kualitas semua SSB.
Kedua, tidak ada kompetisi tetap setiap musim untuk usia dini. Sebagian besar SSB di Indonesia hanya mengikuti festival dan turnamen, tidak ada kompetisi reguler yang sebenarnya sangat penting untuk mengasah bakat.
Kita ambil contoh dari kota Utrecht, Belanda. Tiap SSB menyediakan tim, dari golongan “F” yang berusia 6-7 tahun sampai golongan “A”, 17 tahun. G"olongan usia tersebut disediakan turnamen oleh KNVB sesuai umurnya, turnamen “F” sampai “A”. Jadi setiap tim muda di Utrecht bisa berkompetisi. Juaranya akan promosi ke kompetisi yang berisi juara SSB kota lain. Semua kompetisi diadakan tiap tahun oleh KNVB.
Membuat kompetisi pada dasarnya cukup mudah. PSSI cukup menyediakan liga yang tiap minngu SSB A bisa berhadapan dengan SSB B, bersistem home-away, dan menyediakan wasit profesional.
Faktor ketiga, tidak adanya infrastruktur yang layak. Organisasi di daerah kebanyakan dikuasai orang politik, termasuk pengurus Asprov PSSI. Rata-rata orang politik di Indonesia kurang pengetahuan soal sepak bola dan hanya mementingkan kepentingan pribadi.  
Contohnya, saat Indonesia membutuhkan seseorang agar program youth development berjalan, orang politik di Indonesia justru hanya memikirkan dirinya sendiri. Bahkan, membuat surat izin sering dipersulit. Pada akhirnya penyelenggaraan kompetisi untuk youth development jadi mangkrak.
Keempat, faktor kedisiplinan. Pada tahun 80-an, Ricky Yacobi bermain di Matsushita FC (sekarang Gamba Osaka). Dari sana jepang mulai mempelajari cara mengelola liga, akhirnya Jepang pun meniru konsep Galatama (Liga Indonesia pada saat itu). Sekarang sepak bola jepang menjadi yang terbaik di Asia. Indonesia? Ancur lebur kompetisinya.
Kita bisa tertinggal selain karena faktor infrastruktur Jepang yang lebih baik, tingkat kedisiplinan Negeri Matahari Terbit itu juga sangat tinggi, bahkan lebih tinggi dibanding negara-negara di Eropa. Daya juang para pamainnya tinggi, dan selalu berusaha untuk meningkat. Hal ini yang membuat Jepang bisa bersaing di kancah internasional.
Bandingkan dengan Indonesia, kedisiplinannya minim. Jago dikit kita jadi sesumbar dan akhirnya tidak latihan. Iklan sana sini lebih jadi prioritas.
Itulah hal-hal yang membuat youth development Indonesia kurang berjalan mulus. Padahal dari bakat dan budaya kita dalam sepak bola sudah sangat tinggi.

Jika kalian merasa ada tambahan atau merasa saya salah silakan komen di bawah.
Share:

7.10.16

Majunya Perindustrian Komik Indonesia


Jika boleh dikatakan, komik, di belantika perindustrian kreatif Indonesia  terbilang sukses. Melejitnya budaya pop Jepang dan suksesnya film-film adaptasi dari komik Amerika nampaknya sedikit memberi influent kepada insan kreatif Indonesia
Sudah sejak dulu komik menjadi bacaan yang menyenangkan. Selain dapat menikmati ceritanya, kita juga bisa menikmati gambarnya.
Bicara soal komik, Jepang dan Amerika menjadi pionir dalam industri dunia cerita bergambar ini. Ribuan judul sudah diproduksi kedua negara tersebut, banyak dari ribuan itu yang sangat populer sampai menjadi budaya negeri.
Kepopuleran komik Jepang seperti Doraemon, Naruto, Dragonball dan Komik pahlawan super Amerika seperti Superman, Batman, Spiderman sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Seluruh dunia sudah mengakui kepopuleran komik-komik tersebut
Dibandingkan dengan komik luar negeri, komik Indonesia tentu  masih jauh dari kata populer, namun perlahan tapi pasti komik Indonesia mulai menapaki jejaknya di industri kreatif ini.
            Dari segi kualitas Indonesia tidak kalah. Lewat elemen budaya Indonesia yang begitu luas, tercipta komik seperti Grand Legend Ramayan dan Grudayana karya Is Yuniarto, Madasastra dan favorit saya, Raibarong, karya Alex Irzaqi dan masih banyak lagi. Semua komik tersebut dari segi kualitas sudah seimbang dengan komik mega hit mancanegara.
            Dalam gaya penggambaran, komik Indonesia masih berkiblat pada gaya Jepang atau Amerika, namun hal ini adalah hal yang biasa. Menurut Chris Lie, salah satu komikus Indonesia, saat ini Indonesia masih mencari “gaya” penggambarannya sendiri.
“Awal karirnya di sekitar tahun 50-an, Bapak Komik Jepang, yaitu Osamu Tezuka, ngaku berkiblat dan belajar banyak dari Disney. Tetapi sebagai orang Jepang, beliau juga mempunyai kosa kata visual sendiri dan setelah berevolusi selama puluhan tahun, jadilah style gambar Jepang yang kita lihat sekarang,” kata Chris Lie saat memberikan materi komik di Kaskus: Komik dan Ilustrasi.
 “Dengan bertambahnya jam terbang mereka (komikus Indonesia), akan tercipta style gambar yang menjadi khas masing-masing yang nantinya akan menjadi style komik Indonesia masa depan,” tambah Chris Lie.
Untuk target pembaca, meski target utama komik Indonesia sekarang adalah pembaca muda, bukan berarti tidak menarik minat kalangan dewasa. Komik seperti Benny & Mice yang memiliki gaya satir yang mengkritik lingkungan sosial pas untuk pembaca dewasa, atau komik komedi keluarga seperti Arigatou Macaroni juga pas dibaca semua kalangan.
Kendala Sukses Komik Indonesia
Jadi, kenapa di Indonesia komik lokal masih kalah populer? Jawabanya terdapat pada stigma masyarakat Indonesia bahwa “barang lokal tidak bagus”. Namun tampaknya stigma tersebut mulai memudar belakangan ini. Bisa dilihat dari beberapa konvensi komik indie atau self publish yang ramai oleh pengunjung.
Selain itu, masih banyak masyarakat Indonesia yang kurang memiliki minat membaca. Pandji Pragiwaksono, Stand Up Comedian yang juga seorang komikus pun angkat bicara saat ditemui di Comic Fest ID 2016. “Bukan minat membaca, tetapi minat yang tidak dimiliki masyarakat Indonesia,” katanya.


Share: