Jika
boleh dikatakan, komik, di belantika perindustrian kreatif Indonesia terbilang sukses. Melejitnya budaya pop
Jepang dan suksesnya film-film adaptasi dari komik Amerika nampaknya sedikit
memberi influent kepada insan kreatif
Indonesia
Sudah
sejak dulu komik menjadi bacaan yang menyenangkan. Selain dapat menikmati
ceritanya, kita juga bisa menikmati gambarnya.
Bicara
soal komik, Jepang dan Amerika menjadi pionir dalam industri dunia cerita
bergambar ini. Ribuan judul sudah diproduksi kedua negara tersebut, banyak dari
ribuan itu yang sangat populer sampai menjadi budaya negeri.
Kepopuleran
komik Jepang seperti Doraemon, Naruto,
Dragonball dan Komik pahlawan super Amerika seperti Superman, Batman, Spiderman sudah tidak perlu dipertanyakan lagi.
Seluruh dunia sudah mengakui kepopuleran komik-komik tersebut
Dibandingkan
dengan komik luar negeri, komik Indonesia tentu masih jauh dari kata populer, namun perlahan
tapi pasti komik Indonesia mulai menapaki jejaknya di industri kreatif ini.
Dari segi kualitas Indonesia tidak kalah. Lewat elemen
budaya Indonesia yang begitu luas, tercipta komik seperti Grand Legend Ramayan dan
Grudayana karya Is Yuniarto,
Madasastra dan favorit saya, Raibarong, karya Alex Irzaqi dan masih
banyak lagi. Semua komik tersebut dari segi kualitas sudah seimbang dengan
komik mega hit mancanegara.
Dalam gaya penggambaran, komik Indonesia masih berkiblat
pada gaya Jepang atau Amerika, namun hal ini adalah hal yang biasa. Menurut
Chris Lie, salah satu komikus Indonesia, saat ini Indonesia masih mencari
“gaya” penggambarannya sendiri.
“Awal
karirnya di sekitar tahun 50-an, Bapak Komik Jepang, yaitu Osamu Tezuka, ngaku berkiblat
dan belajar banyak dari Disney. Tetapi sebagai orang Jepang, beliau juga
mempunyai kosa kata visual sendiri dan setelah berevolusi selama puluhan tahun,
jadilah style gambar Jepang yang kita
lihat sekarang,” kata Chris Lie saat memberikan materi komik di Kaskus: Komik
dan Ilustrasi.
“Dengan
bertambahnya jam terbang mereka (komikus Indonesia), akan tercipta style gambar yang menjadi khas
masing-masing yang nantinya akan menjadi style komik Indonesia masa depan,” tambah
Chris Lie.
Untuk
target pembaca, meski target utama komik Indonesia sekarang adalah pembaca
muda, bukan berarti tidak menarik minat kalangan dewasa. Komik seperti Benny & Mice yang memiliki gaya
satir yang mengkritik lingkungan sosial pas untuk pembaca dewasa, atau komik
komedi keluarga seperti Arigatou Macaroni
juga pas dibaca semua kalangan.
Kendala
Sukses Komik Indonesia
Jadi,
kenapa di Indonesia komik lokal masih kalah populer? Jawabanya terdapat pada stigma masyarakat Indonesia bahwa
“barang lokal tidak bagus”. Namun tampaknya stigma tersebut mulai memudar
belakangan ini. Bisa dilihat dari beberapa konvensi komik indie atau self publish
yang ramai oleh pengunjung.
Selain
itu, masih banyak masyarakat Indonesia yang kurang memiliki minat membaca.
Pandji Pragiwaksono, Stand Up Comedian yang juga seorang komikus pun angkat
bicara saat ditemui di Comic Fest ID
2016. “Bukan minat membaca, tetapi minat yang tidak dimiliki masyarakat
Indonesia,” katanya.
0 komentar:
Posting Komentar