7.10.16

Majunya Perindustrian Komik Indonesia


Jika boleh dikatakan, komik, di belantika perindustrian kreatif Indonesia  terbilang sukses. Melejitnya budaya pop Jepang dan suksesnya film-film adaptasi dari komik Amerika nampaknya sedikit memberi influent kepada insan kreatif Indonesia
Sudah sejak dulu komik menjadi bacaan yang menyenangkan. Selain dapat menikmati ceritanya, kita juga bisa menikmati gambarnya.
Bicara soal komik, Jepang dan Amerika menjadi pionir dalam industri dunia cerita bergambar ini. Ribuan judul sudah diproduksi kedua negara tersebut, banyak dari ribuan itu yang sangat populer sampai menjadi budaya negeri.
Kepopuleran komik Jepang seperti Doraemon, Naruto, Dragonball dan Komik pahlawan super Amerika seperti Superman, Batman, Spiderman sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Seluruh dunia sudah mengakui kepopuleran komik-komik tersebut
Dibandingkan dengan komik luar negeri, komik Indonesia tentu  masih jauh dari kata populer, namun perlahan tapi pasti komik Indonesia mulai menapaki jejaknya di industri kreatif ini.
            Dari segi kualitas Indonesia tidak kalah. Lewat elemen budaya Indonesia yang begitu luas, tercipta komik seperti Grand Legend Ramayan dan Grudayana karya Is Yuniarto, Madasastra dan favorit saya, Raibarong, karya Alex Irzaqi dan masih banyak lagi. Semua komik tersebut dari segi kualitas sudah seimbang dengan komik mega hit mancanegara.
            Dalam gaya penggambaran, komik Indonesia masih berkiblat pada gaya Jepang atau Amerika, namun hal ini adalah hal yang biasa. Menurut Chris Lie, salah satu komikus Indonesia, saat ini Indonesia masih mencari “gaya” penggambarannya sendiri.
“Awal karirnya di sekitar tahun 50-an, Bapak Komik Jepang, yaitu Osamu Tezuka, ngaku berkiblat dan belajar banyak dari Disney. Tetapi sebagai orang Jepang, beliau juga mempunyai kosa kata visual sendiri dan setelah berevolusi selama puluhan tahun, jadilah style gambar Jepang yang kita lihat sekarang,” kata Chris Lie saat memberikan materi komik di Kaskus: Komik dan Ilustrasi.
 “Dengan bertambahnya jam terbang mereka (komikus Indonesia), akan tercipta style gambar yang menjadi khas masing-masing yang nantinya akan menjadi style komik Indonesia masa depan,” tambah Chris Lie.
Untuk target pembaca, meski target utama komik Indonesia sekarang adalah pembaca muda, bukan berarti tidak menarik minat kalangan dewasa. Komik seperti Benny & Mice yang memiliki gaya satir yang mengkritik lingkungan sosial pas untuk pembaca dewasa, atau komik komedi keluarga seperti Arigatou Macaroni juga pas dibaca semua kalangan.
Kendala Sukses Komik Indonesia
Jadi, kenapa di Indonesia komik lokal masih kalah populer? Jawabanya terdapat pada stigma masyarakat Indonesia bahwa “barang lokal tidak bagus”. Namun tampaknya stigma tersebut mulai memudar belakangan ini. Bisa dilihat dari beberapa konvensi komik indie atau self publish yang ramai oleh pengunjung.
Selain itu, masih banyak masyarakat Indonesia yang kurang memiliki minat membaca. Pandji Pragiwaksono, Stand Up Comedian yang juga seorang komikus pun angkat bicara saat ditemui di Comic Fest ID 2016. “Bukan minat membaca, tetapi minat yang tidak dimiliki masyarakat Indonesia,” katanya.


Share:

0 komentar:

Posting Komentar