Sepak
bola adalah salah satu olahraga paling populer di Indonesia, bahkan mungkin
yang paling populer. Namun, cukup disayangkan prestasi Indonesia sangat minim. Faktor
dari melempemnya Indonesia dalam sepak bola tidak lain karena buruknya program youth development.
Kita
bisa lihat, pada tahun 2013 Indonesia peringkat 8 piala dunia U-12 dan menurun
menjadi peringkat 11 tahun 2016. Tahun 2014 setelah event Piala AFF U-19 2014 di Myanmar Timnas Indonesia U-19 yang
sebenarnya sangat berpotensi malah dibubarkan.
“Tapi
bukannya sudah ada SSB di Indonesia?” ya, Sekolah Sepak Bola (SSB) di Indonesia
memang sudah ada, bahkan sangat banyak. Namun itu saja belum cukup sebagai program
youth development atau pengembangan
usia dini.
Alasan
pertama, seperti yang dikatakan expert sepak
bola, Coach Justinus Lhaksana, Indonesia
tidak mempunyai kriteria dalam membuat SSB. Jika ingin membuat SSB, kita
tinggal membuatnya, baik untuk usia 6 tahun sampai 17 tahun. Padahal dalam
pembuatan SSB musti ada kriterianya. Ini menyebabkan buruknya kualitas sebagian
besar SSB di Indonesia.
Asosiasi
Provinsi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (Asprov PSSI), sebagai
kepanjangan tangan dari PSSI seharusnya membuat sebuah kriteria untuk SSB.
Contohlah kriteria youth development terbaik
di dunia, yaitu milik KNVB (PSSI nya Belanda).
SSB
yang diakui KNVB hanya yang memiliki kelas usia 6 – 17 tahun. Setiap
SSB diwajibkan punya lapangan sendiri, kalaupun tidak harus sewa dan ada
kontrak resminya. SSB juga harus rutin menggelar latihan seminggu sekali. Hal
ini bertujuan untuk pemerataan kualitas semua SSB.
Kedua, tidak ada kompetisi tetap setiap musim untuk usia
dini. Sebagian besar SSB di Indonesia hanya mengikuti festival dan turnamen,
tidak ada kompetisi reguler yang sebenarnya sangat penting untuk mengasah bakat.
Kita ambil contoh dari kota Utrecht, Belanda. Tiap SSB
menyediakan tim, dari golongan “F” yang berusia 6-7 tahun sampai golongan “A”, 17
tahun. G"olongan usia tersebut disediakan turnamen oleh KNVB sesuai
umurnya, turnamen “F” sampai “A”. Jadi setiap tim muda di Utrecht bisa
berkompetisi. Juaranya akan promosi ke kompetisi yang berisi juara SSB kota
lain. Semua kompetisi diadakan tiap tahun oleh KNVB.
Membuat kompetisi pada dasarnya cukup mudah. PSSI cukup
menyediakan liga yang tiap minngu SSB A bisa berhadapan dengan SSB B, bersistem
home-away, dan menyediakan wasit profesional.
Faktor ketiga, tidak adanya infrastruktur yang layak. Organisasi
di daerah kebanyakan dikuasai orang politik, termasuk pengurus Asprov PSSI. Rata-rata
orang politik di Indonesia kurang pengetahuan soal sepak bola dan hanya
mementingkan kepentingan pribadi.
Contohnya,
saat Indonesia membutuhkan seseorang agar program youth development berjalan, orang politik di Indonesia justru hanya
memikirkan dirinya sendiri. Bahkan, membuat surat izin sering dipersulit. Pada akhirnya
penyelenggaraan kompetisi untuk youth
development jadi mangkrak.
Keempat,
faktor kedisiplinan. Pada tahun 80-an, Ricky Yacobi bermain di Matsushita FC (sekarang
Gamba Osaka). Dari sana jepang mulai mempelajari cara mengelola liga, akhirnya
Jepang pun meniru konsep Galatama (Liga Indonesia pada saat itu). Sekarang sepak
bola jepang menjadi yang terbaik di Asia. Indonesia? Ancur lebur kompetisinya.
Kita
bisa tertinggal selain karena faktor infrastruktur Jepang yang lebih baik,
tingkat kedisiplinan Negeri Matahari Terbit itu juga sangat tinggi, bahkan
lebih tinggi dibanding negara-negara di Eropa. Daya juang para pamainnya tinggi,
dan selalu berusaha untuk meningkat. Hal ini yang membuat Jepang bisa bersaing
di kancah internasional.
Bandingkan
dengan Indonesia, kedisiplinannya minim. Jago dikit kita jadi sesumbar dan
akhirnya tidak latihan. Iklan sana sini lebih jadi prioritas.
Itulah
hal-hal yang membuat youth development Indonesia kurang berjalan mulus. Padahal
dari bakat dan budaya kita dalam sepak bola sudah sangat tinggi.
Jika
kalian merasa ada tambahan atau merasa saya salah silakan komen di bawah.

Engga salah kok bob. Wkwk
BalasHapusWaw sangat bermanfaat.
BalasHapusSederhana namun menarik. Mantap!
BalasHapusNice bob
BalasHapusNice bob
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusInformasinya bermanfaat gan 👍
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapussetuju gan kalo bisa kasih solusi dong hehe
BalasHapussudah ane kasih contoh gan bagaimana yang baiknya, solusi biar yang menjabat aja yang mikir, mereka dibayar untuk apa? wkwkwk
HapusEmang keren dah pecinta bola mah, Nice Bob
BalasHapusIya yaah padahal ssb udah banyak knapa masih ada aja kurangnya yak
BalasHapusThx gan atas infonya, kalo vans authenticnya masih ada ga gan?
BalasHapussiapa nih? udah sold wkwkwkwkwk
HapusBagus sekali artikel nya, sangat bermanfaat untuk pengkajian di masa yang akan datang
BalasHapusNice banget untuk bahan diskusi. Kenyataannya, memang kebanyakan SBB hanya bermodalkan lapangan luas saja sudah "berani" buka, sedangkan diluar negri sana mesti butuh persiapan fasilitas,dll nya dulu untuk buka.
BalasHapusKalo kompetisi buat ssb sih sebenernya ada gan, cuma habis lulus para pemainnya ga dikasi tujuan. Pengalaman sepupu ane gan
BalasHapusWadu bola wadu
BalasHapusmenarik untuk dibaca. semoga dapat menulis tulisan kembali ya!
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusBagus bob, pas jadi penulis! ditunggu tulisan nya lagi
BalasHapusBagus postingannya,lalu apakah ada solusinya
BalasHapussudah gua cantumin contoh-contoh dari yang terbaik, solusi tinggal yang menjabat yang mikir, mereka yang dibayar untuk itu. btw makasih komennya ya
HapusMantap bob!👍
BalasHapusAda ga sepak bola untuk perempuan ?
BalasHapusada dong. kapan-kapan gua bahas
HapusTHIS ARTICLE VERY FVCKING AWESOME! 👍 V
BalasHapusWah Artikel yang bagus. Sederhana tapi bermanfaat.
BalasHapus